Serial Detektif Sherlock Holmes : Menghilangnya Lady Frances Carfax

“Kenapa harus model Turki?” tanya Sherlock Holmes sambil menatap sepatu botku. Aku sedang duduk santai di kursi malas, sehingga kakiku yang terjulur menarik perhatiannya yang selalu usil.

“Model Inggris kok,” jawabku heran. “Kubeli di Toko Sepatu Latimer’s di Oxford Street.”

Holmes tersenyum sabar, dengan ekspresi seolah dia sudah capek menghadapiku.

“Maksudku mandi!” katanya. “Mandi! Buat apa mahal-mahal mandi ala Turki, sedangkan dengan cara biasa juga tubuh sudah segar?”

Beberapa hari terakhir ini aku terserang rematik, dan aku merasa tua. Mandi ala Turki bisa menjadi obat yang menyegarkan dan membersihkan peredaran darah.

“Omong-omong, Holmes,” tambahku, “aku yakin ada hubungan antara sepatu botku dan mandi ala Turki, dan aku akan sangat berterima kasih kalau kau bersedia menjelaskannya.”

“Penjelasannya sederhana sekali, Watson,” kata Holmes sambil mengejapkan matanya.

“Kesimpulan yang kudapat masih tergolong tingkat yang paling mudah seperti kalau aku menanyakan dengan siapa kau naik kereta tadi pagi.”

“Pengandaian kan bukan penjelasan,” kataku dengan agak mendongkol.

“Hidup Watson! Protes yang sangat meyakinkan dan logis. Coba kulihat, hal-hal apa yang kudapat kan? Yang paling akhir dulu—soal kereta. Perhatikan bercak cipratan air di lengan kiri dan bahu jasmu. Kalau kau tadi duduk di tengah kau tak akan kecipratan. Kalaupun kecipratan, pasti bekasnya akan berpola simetris. Jadi, jelas kau duduk di salah satu sisi. Karenanya pasti ada orang lain yang sekereta denganmu.”

“Penjelasannya ternyata sederhana, ya.”

“Memang.”

“Tapi mengenai sepatu bot dan mandi ala Turki.”

“Itu juga mudah. Kau punya gaya khas kalau mengikat tali sepatu. Kulihat kali ini gayanya lain.