Serial Detektif Robert Langdon : Deception Point

Restoran Toulos, yang berdekatan dengan Capitol Hill, menjagokan menu yang secara politis tidak benar: daging anak lembu yang lunak dan carpaccio kuda. Walau demikian, restoran tersebut adalah tempat makan pagi yang strategis meski ironis bagi para politisi tertentu yang saat ini sedang berkuasa di Washington.

Pagi ini restoran Toulos ramai—bunyi riuh dentingan sendok-garpu dan pisau dari perak, mesin pembuat espresso, dan percakapan melalui ponsel.

Sang maitre d’ sedang menyesap Bloody Mary paginya secara diam-diam ketika seorang perempuan memasuki restoran. Sang maitre d’ kemudian memandang perempuan itu sambil melayangkan senyuman terlatihnya.

“Selamat pagi. Bisa saya bantu?”

Penampilan perempuan itu menarik. Dia berusia pertengahan tiga puluh tahun, mengenakan celana panjang flanel berlipit berwarna kelabu, blus berwarna gading rancangan Laura Ashley, dan sepatu gaya klasik dengan hak datar. Pembawaannya tegak dengan dagu terangkat sedikit sehingga tidak mengesankan kesombongan, hanya keteguhan pendirian. Rambutnya berwarna cokelat muda dan ditata dalam gaya yang paling populer di Washington: gaya seorang “wanita penyiar” dengan gelombang lembut dan indah di bagian bawah dan menyentuh bahunya … cukup panjang untuk dikatakan seksi, namun cukup pendek untuk mengingatkan bahwa mungkin saja dia lebih pandai dibandingkan Anda.

“Aku agak terlambat,” perempuan itu berkata dengan nada datar. “Aku ada janji makan pagi bersama Senator Sexton.”

Tiba-tiba sang maitre d’ merasa tergelitik. Senator Sedge-wick Sexton. Senator itu adalah pelanggan restoran ini dan sekarang dia merupakan salah satu lelaki yang paling terkenal di negeri ini. Minggu lalu, setelah mengalahkan secara telak kedua belas calon presiden dari partai Republik pada Super Tuesday, sang senator jelas dicalonkan partainya sebagai kandidat Presiden Amerika Serikat. Banyak orang percaya bahwa sang senator memiliki kesempatan besar untuk merebut Gedung Putih dari presiden saat ini dalam pemilu di musim gugur yang akan datang. Akhir-akhir ini wajah Sexton muncul di setiap majalah nasional, dan slogan-slogan kampanyenya tertempel di seluruh Amerika: “Hentikan penghamburan uang. Mulailah perbaikan.”